Sejarah Desa

ASAL USUL/LEGENDA DESA BOTO

 

Pada masa kemerdekaan, Desa Boto dipimpin oleh seorang Demang yang bernama Taru Warsito dan memiliki 5 wilayah kebayan/dusun, yaitu : Boto, Pencil, Nampu, Belang, dan Panggang. Semenjak tahun 1956 Desa Boto dipimpin seorang Kepala Desa yang bernama Marto Wito dan wilayah Desa Boto bertambah menjadi 9 Dusun, yaitu : Boto, Pencil, Nampu, Belang, Panggang, Pandansurat, Nglampeng, Gamping dan Ngawu. Kemudian pada tahun 1978 Desa Boto terkena dampak dari Program Pembangunan Waduk Gajah Mungkur sehingga terjadi perubahan wilayah dengan adanya 3 dusun yang tergenang oleh perairan Waduk Gajah Mungkur  yaitu Dusun Nampu, Belang, Panggang dan mendapatkan penggabungan 4 Dusun yaitu : Dusun Pandanarum dari Desa Kasine dan Dusun Karanganom, Belikrejo, dan Tugurejo dari Desa Glonggongrejo.

Struktur Pemerintahan Desa pada waktu itu terdiri dari :

    1. Kepala Desa   : Pimpinan Pemerintah Desa
    2. Carik               : Juru Tulis
    3. Kami Tua        : Pembantu Lurah
    4. Jogo Tirto       : Pamong Desa yang bertugas mengatur irigasi pertanian
    5. Jogo Boyo      : Pamong Desa yang bertugas sebagai pengatur keamanan
    6. Kebayan         : Kapala Dusun
    7. Antek              : Sebagai Ketua RT